Antara Aku, Kamu, dan Ayam Goreng

Tag

, , , , , ,

zaxplore.com

zaxplore.com

Kapan terakhir menyantap ayam goreng?
Bolehlah kalau dibilang hampir semua orang doyan makan ayam goreng. Mau bagian dada, paha, sayap, atau bahkan ceker dan kepalanya sekalipun. Digoreng crispy pakai tepung atau tidak, sama nikmatnya.

Duh, jadi lapar… Oke, fokus! Fokus ke paha mbak-mbak penjual ayam goreng. Ah! Sudah, sudah.

Tulisan ini sih bukan mau ngasih resep masak ayam goreng yang endesss (menirukan ucapan seorang kawan ketika yang bersangkutan menemukan santapan lezat).

Bukan pula mau bercerita tentang silsilah keluarga besar ayam potong yang tak pernah sampai tujuh turunan (hadehh.. Apalah apalah).

Ngomong soal ayam goreng, ingatan tiba-tiba meloncatkan memori masa kecil ketika aku baru saja lulus dari ANC (Akademi Ngompol di Celana). *Tuhan, lindungi aku dari godaan setan yang lebay dan garing. Plis!!*

Jadi, suatu ketika saat itu, aku dan dua saudara sepupu lelaki sedang berada di rumah Nini (sebutan untuk nenek dalam bahasa jawa di daerah asal kami). Seperti kebanyakan anak laki-laki, kami bermain aneka permainan selayaknya bocah masa itu. Petak umpet, kejar-kejaran, main gundu, panjat pohon jambu air di halaman, lalu banyak permainan lainnya. Yang jelas, bukan main perempuan (eh!).

Menjelang tengah hari, kami sudah kecapekan lalu memutuskan beristirahat di teras rumah sambil bercanda apa saja, menunggu Nini memanggil kami untuk segera makan siang.

“Anak-anak, ayo makan dulu,” seru Nini dari dalam rumah, setengah berteriak dengan suara sedikit parau.

Kami langsung berhamburan, adu cepat menuju dapur selekas mungkin supaya bisa di urutan pertama menyendok makanan. Sialnya, badanku relatif paling kecil di antara lainnya dan kalah gesit dari para sepupu. Jadilah aku paling akhir di antrian untuk ambil makan. Mereka sudah duduk di kursi panjang di samping rumah ketika aku baru mulai menyendokkan nasi ke atas piring.

Nini waktu itu masak sayur bening dengan isian wortel, seledri dan kol yang banyak, sambal terasi yang lumayan pedas, serta lauk tempe goreng tepung dan ayam goreng. Menu yang sangat spesial untuk makan siang kami. Aku sudah bersiap menyusul para sepupu di samping rumah dengan piring di tanganku ketika Nini mendadak menaruh sebuah benda ke dalam piring. Aku tahu itu adalah hati goreng dari baunya.

“Benamkan di antara nasimu dan jangan beri tahu saudaramu,” kata Nini dengan raut yang biasa dan terlihat tenang.

Aku tertegun dengan kalimat terakhir Nini; jangan sampai saudaraku tahu bahwa aku mendapatkan lauk tambahan. Gamang, ragu dengan yang baru saja aku terima. Sebagai bocah, aku tidak bisa menyembunyikan wajah gembiraku karena mendapatkan bonus lauk yang aku suka. Tapi otak bocahku juga mulai tidak tenang karena harus main ‘petak umpet’ dengan hati goreng di atas piringku.

Aku tahu Nini melakukannya karena kasihan melihatku makan urutan terakhir. Namun tetap saja, hati dan pikiranku mendadak merasa ‘tergoreng’ juga. Antara ingin menyantap hati goreng dengan puas sekaligus juga tak tahan dengan rasa gugup karena menyembunyikan sesuatu di depan orang lain. Serba salah jadinya. Iya, cowok memang selalu salah di mata lawan jenisnya. Eh, apaan nih.

wpid-00-57-09-wpid-img_22350235479400.jpegOkay, menjadi orang yang spesial di mata orang lain memang sesuatu yang menyenangkan. Tapi begitu, dalam konteks memperlakukan bocah, tidak lantas harus dikhususkan, bukan?

Jangan lupa, anak-anak adalah generasi penerus yang lahir sebagai bibit. Bagaimana kita menanam dan merawat mereka akan sangat memengaruhi bagaimana mereka akan tumbuh dewasa kelak. Terlepas dari fakta bahwa kebutuhan setiap orang memang berbeda-beda, perlakuan dengan tanpa beda kiranya bisa menjadi bagian dari pembelajaran bagi si anak untuk bertindak jujur dan adil. Seperti pemilu. Halah, kumat lebay-nya.

Tentunya yang paling mengerti kebutuhan si anak adalah orangtuanya sendiri. Orangtua bisa mengamati dan memprediksi apa saja yang dibutuhkan si anak.

Ya sudah sih. Tulisannya sampai di sini saja. Selain jari udah keriting, aku juga belum punya anak. Jadi, tidak banyak yang bisa aku ceritakan bab asuh mengasuh.

Aku taunya cuma membasuh. Membasuh keringnya jiwamu dengan cin.. Halahh, stop! (*)

Iklan