Tag
apresiasi, ESEMKA, Jambul Khatulistiwa, Jokowi, pejabat, politik, SMK, Solo, stereotip, STM, Syahrini, tawuran
Selain Syahrini yang sibuk ber-susuasu sesuatu dan berjambul ria, ada satu lagi yang tampaknya sedang naik daun belakangan ini. Tak lain adalah ESEMKA, mobil buatan siswa SMK 2 Surakarta bersama dengan Sukiyat, pemilik bengkel Kiat Motor di Solo. Mobil satu ini jelas sudah jadi fenomena tersendiri yang menghebohkan masyarakat. Bukan saja telah menyita perhatian masyarakat, tapi juga menyita halaman dan menjadi sajian utama (headline) beberapa media massa cetak dan elektronik.
Fenomena “demam” ESEMKA ini jadi heboh setelah Walikota Solo, Jokowi, dengan mantapnya berujar untuk menggunakan mobil ESEMKA sebagai mobil dinasnya, menggantikan Toyota Camry yang sudah dipakainya sejak 2005. Beserta wakilnya, FX Hadi Rudyatmo, ia begitu percaya diri memasang plat merah bernopol AD 1 dan AD 2 di bodi mobil tersebut. “Sama nyamannya dengan Camry,” kata Jokowi. Semenjak itu, beberapa pejabat baik di daerah maupun di pusat pun beramai-ramai “mengerubungi” mobil ESEMKA tersebut. Beberapa di antaranya sudah memesan.
Para ahli politik berpendapat, apa yang dilakukan Jokowi adalah sindiran untuk para pejabat yang lebih memilih duduk dan ongkang-ongkang kaki di atas jok mobil mewah produksi Eropa atau Jepang yang jadi mobil dinasnya. Dan memang, beberapa pejabat tinggi pun “gusar” melihat tingkah Walikota Solo itu. Sindiran, kata-kata nyinyir pun dikirim balik pada Jokowi. Ada yang bilang Jokowi terlalu narsis, bahkan terlalu sembrono karena sudah pasang plat nomor padahal surat-suratnya belum keluar.
Well, itulah panggung politik negeri ini. Ada aksi, ada reaksi. Apa yang dilakukan Jokowi (yang notabene hanya pejabat daerah, cuma seorang walikota) barangkali sudah menyentil perasaan orang di tingkat atasnya. Mungkin mereka merasa eksistensinya sudah “disalip” Jokowi. Atau mungkin Jokowi memang sedang bersiap “tancap gas” menuju kursi di ibukota? Hmm, siapa yang tahu.
Di balik semua itu, yang lebih penting dan menarik untuk diperhatikan barangkali dari sisi siswa SMK itu sendiri. Perlu diperhatikan, setelah booming mobil ESEMKA bikinan siswa di Surakarta, hasil-hasil produksi siswa SMK di lain daerah pun kemudian mulai banyak bermunculan di pemberitaan media massa. Siswa SMK 2 Surabaya menghasilkan mobil gokart Tamimo, SMK 8 Bandung merakit Buggy Car, bahkan siswa SMK 29 Jakarta berhasil merakit pesawat Jabiru J430, bekerjasama dengan Federasi Aerosport Indonesia (FASI). Dari sini terlihat, mereka memiliki kemampuan cemerlang dalam berkarya dan berinovasi. Ada yang menyebutkan, mobil ESEMKA memiliki kemiripan dari segi desain dengan beberapa mobil di China dan India. Namun, terlepas dari itu, kreativitas dan kerja keras para siswa itu patutlah diapresiasi dengan terbuka.
Setidaknya, mereka ini tak lagi dalam kungkungan citra miring dari anak SMK (atau kita lebih sering menyebutnya STM) yang urakan, doyan berantem dan tawuran, serta sekelumit persepsi negatif lainnya. Mereka unjuk kekuatan bukan dengan celurit, gear sepeda motor, dan konvoi sepeda motor dengan kenalpot bersuara memekakkan. Justru, mereka pamer kekuatan dengan karya. Ya tentu saja, masih ada juga siswa-siswa yang seperti itu. Namun, tak bisa dipukul rata juga kan? Memang sudah saatnya setereotip macam itu ditanggalkan. Dan mereka pantas diapresiasi untuk semua karyanya.





